AKU CUMA HAMBA HINA LAGI BANYAK DOSA.TIDAK LAYAK BERGELAR PENCINTA_TARBIAH

Sesungguhnya sebaik-baik tarbiah adalah tarbiah Allah.

TARBIYAH ANTARA NUKHBAWIYAH DAN JAMAHIRIYAH

بسم الله الرحمن الرحيم




TARBIYAH ANTARA NUKHBAWIYAH DAN JAMAHIRIYAH


MUKADIMAH.

Memahami fiqh tarbiyah sesuatu yang urgen karena dengan tarbiyah akan lahir syakhshiyah islamiyah mutakamilah mutawazinah [kepribadian islami yang utuh dan seimbang] yang siap menjawab tantangan zaman dengan segala problematika, ujian dan cobaannya. Agar upaya menghasilkan kader-kader seperti tersebut diatas dapat berhasil, maka manhaj tarbiyah harus mampu merealisasikan tujuan-tujuan berikut ini :
Pertama : memahami Islam sebagai manhaj atau pedoman hidup bagi manusia yang bersifat universal [syumul}, seimbang [tawazun], integral [takamul], global [‘alamiyah], fleksibel [murunah], realistis [waqi’iyah] dan bersumber dari Allah [rabbaniyah].

Kedua : memiliki komitmen pada Islam dalam semua aspeknya; sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan lain-lainnya, sehingga semua teori [nazhoriyah] teraplikasikan di dalam kehidupan yang nyata.

Ketiga,:memperhatikan kondisi obyektif masyarakat dalam hal aplikasi, komunikasi dan interaksi dengan prinsip-prinsip Islam. Semua itu harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, waktu dan tempat. Kemudian apakah dengan kaum muslimin ataukah dengan non muslim dan baik dalam interaksi da’wah [ta’amul da’awi] maupun interaksi politik [ta’amul siasi]. Selain itu juga perlu dilihat apakah di dalam masyarakat yang monoloyalitas ataukah multiloyalitas karena memang tidak mungkin mengaplikasikan Islam hanya dengan satu model. Oleh karena itu diperlukan ta-shil syari [pengokohan hukum syar’i’] dalam berinteraksi dengan orang lain [fiqhu ta’amul ma’al ghoir] dan manhaj tarbiyah haruslah dibuat di atas landasan ini.

Keempat, memperhatikan tanggung jawab tarbiyah, dalam rangka mencetak kader da’wah dan generasi yang bisa bergaul dengan masyarakat luar, mampu mempengaruhi, menguasai dan tidak menganggap mereka sebagai musuh walaupun perlakuan mereka keras, kasar dan menyakitkan. Sebab da’i sejati dan aktivis yang sukses adalah justru orang yang mampu merekrut orang-orang yang sulit direkrut. Di sini nampak adanya perbedaan daya tarik dan kemampuan di antara para aktifis untuk menguasai dan merekrut massa.


1. TARBIYAH NUKHBAWIYAH.
Tarbiyah nukhbawiyah [pembinaan kader] merupakan kelanjutan dari tarbiyah jamahiriyah [kaderisasi massa] yang berfungsi untuk saling melengkapi dan tidak boleh dipisah antara yang satu dengan yang lainnya. Tarbiyah nukhbawiyah adalah kaderisasi yang difokuskan kepada orang-orang tertentu hasil rekruting massa dan bertujuan untuk mempersiapkan para da’i dan murobbi di tengah-tengah masyarakat serta untuk masyarakat. Bila hal ini tidak menjadi tujuan tarbiyah, maka tarbiyah nukhbawiyah hanya sebagai kegiatan rutinitas terbatas pada ishlahul fardi [perbaikan pribadi] yang ekslusif, bahkan kebaikan yang bersifat pasif, karena tidak memiliki peran perbaikan terhadap masyarakat dan realita kehidupan.

Tarbiyah nukhbawiyah bertujuan meningkatkan berbagai kemampuan dan keahlian kader agar dapat berperan dalam mengendalikan dan merekrut massa di bidang tarbiah, da’wah, harokah dan siasah serta mampu menyiapkan masyarakat agar siap melakukan gerakan reformasi dan perubahan. Tetapi tidak semua orang harus atau dipaksakan mengikuti tarbiyah nukhbawiyah karena potensi, kemampuan dan kesiapan manusia tidaklah sama. Selain itu tidak semua orang memiliki kesiapan untuk menjadi aktifis da’wah. Pandangan yang jauh ke depan, kejernihan hati, bijak, sabar, mencintai orang lain dan bersemangat membimbing mereka, tawakkal kepada Allah serta ikhlash hanya menginginkan balasan dariNya adalah sifat-sifat yang harus ada pada seorang da’i. Sehingga ia mampu membuat sesuatu yang dibenci menjadi disenangi, yang jauh menjadi dekat dan lawan menjadi kawan.

Orang-orang pilihan Allah, para nabi dan rasul berda’wah secara aktif di tengah-tengah masyarakat dan hidup bersama mereka. Sebagai contoh misalnya perjuangan Nabi Nuh alaihissalam untuk menda’wahi kaumnya tanpa kenal lelah, “Nuh berkata: ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari[dari kebenaran]. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka [kepada iman] agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya [ke mukanya] dan mereka tetap [mengingkari] dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka [kepada iman] dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku [menyeru] mereka [lagi] dengan terang-terangan dan dengan diam–diam, maka aku katakan kepada mereka: mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan [pula di dalamnya] untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian“. Nuh ayat 5-14.

Kemudian Nabi Ibrahim AS yang merupakan sosok pemimpin yang taat kepada Allah SWT, figur yang menghadapi kaumnya sendiri tanpa adanya jama’ah, partai atau golongan yang mendukungnya. Ia menghadapi mereka dengan argumentasi yang kuat dan logika yang mantap, ketika kaumnya berpaling maka ia menghancurkan berhala-berhala mereka. “Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong kecuali yang terbesar [induk] dari patung-patung yang lain agar mereka kembalikan [untuk bertanya] kepadanya. Mereka berkata: siapa yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami?, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim. Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. Mereka berkata: [Kalau demikian] bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak agar mereka menyaksikan. Mereka bertanya: Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan–tuhan kami hai Ibrahim? Ibrahim menjawab: Sesungguhnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu jika mereka dapat berbicara. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang–orang yang menganiaya [diri sendiri] “. Al-Ambiya ayat 58¬-64.

Dan akhirnya Nabi Muhammad bin Abdillah yang tidak membiarkan kesempatan berlalu tanpa upaya berda’wah, mengajak manusia ke jalan Allah. Beliau di satu sisi mempersiapkan kader da’wah di rumah Arqom bin Abil Arqom namun di sisi lain juga tidak pernah putus berda’wah di masyarakat, mendatangi tempat-tempat berkumpulnya orang banyak seperti di pasar-pasar ‘Ukaz, Majinnah, Dzilmajaz dan Mina. Bukankah Rasul memang diutus sebagai rahmat untuk semesta alam sebagaimana dijelaskan di dalam Al Qur’an: “Wahai manusia sesungguhnya aku utusan Allah kepada kamu semua“. [AL-‘Arof ayat 158]. Dan Aku tidak mengutusmu melainkan sebagai rahmat untuk semesta alam“. [Al-Anbia ayat 107]. “ Dan Kami tidak mengutusmu [Muhammad] melainkan untuk seluruh manusia membawa berita gembira dan peringatan akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya“. [Saba ayat 28]

Tujuan tarbiyah adalah untuk meningkatkan keimanan, ilmu pengetahuan serta akhlaq, keshalihan dan melaksanakan kewajiban da’wah serta memiliki komitmen di jalan da’wah untuk menggapai ridho Allah. Tarbiyah nukhbawiyah untuk peningkatan kualitas pribadi dan difungsikannya kader untuk kepentingan Islam, harus menjadi tujuan tarbiyah. Allah memilih para Nabi bukan sebagai tujuan, tapi yang menjadi tujuan adalah menyiapkan mereka untuk bertarung melawan kebatilan dan menyelamatkan masyarakat dari kekuasaan thaghut [pemimpin yang zhalim] agar mereka tunduk beribadah hanya kepada Allah dan menolak segala bentuk sistem jahiliyah.


2. TARBIYAH JAMAHIRIYAH.
Sebagaimana penjelasan di awal, tarbiyah nukhbawiyah adalah follow up atau tindak lanjut dari tarbiyah jamahiriyah. Ia merupakan motor penggerak tarbiyah jamahiriyah dan sekaligus mengarahkan, meluruskan serta mengendalikannya, jadi bukan sebagai pengganti atau sesuatu yang kontradiktif. Sementara tarbiyah jamahiriyah adalah mengaktualisasikan peran tarbiyah nukhbawiyah dengan tabligh, nasyrul fikroh dan mengajarkan Islam kepada masyarakat sehingga mereka menjadi pendukung da’wah dan terjadilah proses tajmi’ jamahiri [rekruting massa]. Bila hal itu tidak terjadi berarti tarbiyah nukhbawiyah telah gagal karena tarbiyah menjadi tidak punya peran dan tujuan. Oleh karenanya tarbiyah nukhbawiyah harus diaktualisasikan dalam aktivitas dan kontribusi sosial [adaa-jamahiri] sesuai dengan perspektif hadits nabawi:
بلغوا عنى ولو أية ‘‘Sampaikan olehmu dariku walaupun hanya satu ayat“ H.R.Bukhari. Belajar harus dilanjutkan dengan mengajar, menerima harus diikuti dengan memberi dan seterusnya. Oleh karenanya tarbiyah nukhbawiyah dan tarbiyah jamahiriyah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam gerakan da’wah.

Tergambar dalam khithab rabbany [arahan Allah] kepada:
- Nabi Musa dan Harun alaihimas-salam,
“ Dan Aku telah memilihmu untuk diriku [menjadi rasul]. Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingatKu; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut “. Thoha ayat 41-44.

-Para Nabi dan Rasul, da’wah mereka adalah juga da’wah jamahiriyah,
“ Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat [di masa mereka masing-masing], sebagai satu keturunan yang sebagiannya [keturunan] dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui“. Ali ‘Imran ayat 33-34.

“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa beriman dan mengadakan perbaikan maka tak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati“. Al-‘An’am ayat 48.

-Nabi Muhammad SAW.,
“Hai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan membawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk itu jadi penyeru [da’i] kepada agama Allah dengan idzinNya dan untuk jadi cahaya yang menerangi “. Al-Ahzab ayat 45-46.

Ayat-ayat ini dan yang serupa dengannya menegaskan adanya komunikasi massa dan arahan publik [jamahiriyatul khithab] serta ‘alaniyatud da’wah [da,wah terbuka]. Ini adalah prinsip dalam syariat Islam, faridhoh [wajib dilaksanakan] dan tidak boleh diabaikan walaupun dengan alasan amniyah [keamanan] belum ada kekuatan tanzhim atau dengan alasan da’wah masih pada marhalah tertentu. Bila kelalaian itu terjadi berarti telah mengabaikan kewajiban da’wah ilallah dan amar ma’ruf nahi munkar yang disebabkan lemahnya semangat, sibuk dengan dunia, lemah iman, takut mati serta takut kehilangan harta dan benda. Da’wah wajib disampaikan sekalipun situasi saat itu berat dan sulit, karena pandangan tentang adanya da’wah sirriyah itu tidak diperkuat dengan dalil syar’i sementara prinsip dalam da’wah adalah jahriyah. Da’wah tidak boleh vakum karena takut akan bahaya walaupun harus menyesuaikan caranya [fiqh da’wah], Al-Qur’an dan sunnah Rasul menegaskan hal itu,
Firman Allah :
" وقل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر".
“Dan katakanlah yang haq dari Robbmu maka barang siapa menginginkan maka berimanlah dan barang siapa yang menginginkan maka kafirlah “.
Rasulullah bersabda:
" أمرنى أن أقول بالحق و إن كان مرا و أمرنى أن لا أخاف فى الله لومة لا ئم ". رواه أحمد من قول عبادة بن الصامت .

“Rasulullah memerintahkan kepada saya agar saya bicara yang haq sekalipun pahit dan memerintahkan kepada saya agar saya tidak takut di jalan Allah akan kecaman orang lain“ H.R.Ahmad, perkataan ‘Ubadah bin Shamit.


Demikianlah pemahaman yang benar tentang fiqh tarbiyah, yakni tidak boleh ada kader yang tidak memiliki wazhifah da’awiyah dan tarbawiyah atau mengajukan alasan untuk tidak berda’wah atau mentarbiyah, berpangku tangan menjadi pengangguran harokah. Setiap kader harus menjadi unsur yang produktif dengan memberikan kontribusinya kepada jama’ah dan harakah ,agar jamaah terus berkembang dan meluas tanpa harus menunggu perintah qiadah dan tanzhim karena pada dasarnya setiap muslim bertanggung jawab kepada Allah,

" وكلهم ءاتيه يوم القيامة فردا".
’’Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri“
Maryam ayat 95.
" كل نفس بما كسبت رهينة".

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya“. Al-Mudatstsir ayat 38.


3. BEBERAPA KESIMPULAN.

Pertama, bahwa jamahiriyatut tarbiyah [tarbiyah bersifat terbuka] tampak jelas melalui khithob nabawi [arahan nabi/hadits] yang diulang-ulang dan anjuran yang terus menerus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak. Peduli terhadap urusan mereka dan menghilangkan kezhaliman yang menimpa mereka.

"من بات ولم يهتم بامر المسلمين فليس منهم". رواه البزار.
“Barang siapa yang bermalam dan ia tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka “. H.R.Al-Bazzar.

Kedua, jamahirut tarbiyah tampak jelas melalui keterangan rasul tentang hubungan yang terus berkembang dan maju di antara sesama kaum muslimin dan antara kaum muslimin dengan non muslim. Di antaranya kewajiban setiap individu terhadap yang lainnya:


1. Pada tataran sosial,Rasulullah bersabda:

"حق المسلم على المسلم ست : إذا لقيته فسلم عليه و إذا دعاك فاجبه و إذا استنصحك فانصح له و إذا عطش فحمد الله فشمته و إذا مرض فعده و إذا مات فأ تبعه ". رواه مسلم.

“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam; [1] bila kamu bertemu dengannya maka ucapkan salam kepadanya, [2] bila kamu diundang maka penuhilah undangannya, [3] bila ia minta nasehat kepadamu maka nasihatilah dia, [4] bila ia bersin dan membaca alhamdulillah maka doakanlah dia dengan mengucap yarhamukallah, [5] bila ia sakit maka jenguklah dan [6] bila ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya sampai kepekuburan “. H.R,Muslim.

"خير الناس أنفعهم للناس " رواه القضاعى.
“Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat buat masyarakatnya“ H.R.Al-Qodho’i

"المؤمن الذي يخالط الناس ويصبر على أذاهم أفضل من المؤمن الذى لا يخالط الناس ولا يصبر على أذاهم "
رواه الترمذى

“Seorang mu’min yang bergaul dengan masyarakat dan bersabar atas perilaku dan sikap buruk mereka itu lebih utama dari pada seorang mu’min yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak sabar atas prilaku dan sikap buruk mereka“ H.R.Tirmidzi.


2. Pada tataran da’wah,Rasul bersabda,

"انصر أخاك ظالما أو مظلوما , فقال رجل : يا رسول الله , أنصره ان كان مظلوما , أرأيت إن كان
ظالما كيف انصره , قال : تحجزه من الظلم فان ذ لك نصره . رواه البخارى "

“ Belalah saudaramu yang zhalim atau yang dizhalimi, lalu berkata seorang laki-laki: ya Rasulullah, saya membelanya jika ia dizhalimi, bagai mana saya membelanya jika ia yang menzhalimi? Rasul menjawab: kamu cegah dia dari berbuat zhalim, dengan demikian kamu telah membelanya“. H.R.Bukhori

" لأ ن يهدى الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم " رواه البخارىو مسلم.
“Demi Allah, dengan usahamu Allah memberikan hidayah kepada seseorang itu lebih baik bagi kamu dari onta merah [harta yang paling berharga]“. H.R.Bukhori dan Muslim.

"من د ل على خيرفله مثل أجر فاعله " رواه مسلم.
“Barang siapa yang menunjukkan orang lain kepada kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya“. H.R.Muslim.


3. Pada tataran hubungan persaudaraan [‘alaqoh ukhawwiyah] Rasul bersabda:

"المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا ". رواه البخارى ومسلم.
“Seorang mu’min dengan mu’min yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan
yang lain saling memperkuat“. H.R.Bukhori dan Muslim.

" المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده , والمؤمن من أمنه الناس على د مائه و أمواله ".
رواه الترمذى والنسائى.
“Seorang muslim adalah orang yang tidak mengganggu kaum muslimin dengan lidah [kata-kata] dan tangan [perbuatan] nya, dan seorang mu’min adalah orang yang memberikan jaminan keamanan terhadap nyawa dan harta orang lain“. H.R.Tirmidzi dan Nasa-i.

"المسلم أخو المسلم , لا يخونه ولا يكذ به ولا يخذ له , كل المسلم على المسلم حرام عرضه و ما له و د مه ,
التقوى ههنا ( و أشار إلى القلب ) , بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم". رواه البخارى.

“Seorang muslim bersaudara dengan muslim yang lain, maka ia tidak boleh mengkhianati, mendustai dan menjadikannya hina, setiap muslim atas muslim yang lain baginya haram kehormatan, harta dan darah [nyawa] nya, taqwa ada di sini [Rasulullah mengisyaratkan tangan ke dadanya/hati], sudah cukup keburukan bagi seseorang dengan menghina saudaranya yang muslim“. H.R.Tirmidzi.

4. Pada tataran amal jama’i dalam menjalankan misi da’wah, amar ma’ruf nahi munkar, perbaikan dan pengarahan Allah berfirman:
"ولتكن منكم أمة يدعون الى الخير ويأمرون با لمعروف وينهون عت المنكر وأولئك هم ا لمفلحون "
“Dan harus ada di antara kamu ummat [golongan] yang menyeru kepada kebajikan, memerintahkan yang ma’ruf [baik] dan mencegah dari yang munkar [buruk] dan mereka adalah orang-orang yang beruntung “. Ali ‘Imran ayat 104.

"وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا علىالا ثم والعد وا ن "

“Dan bekerjasamalah kamu atas dasar kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah bekerjasama di atas dosa dan permusuhan “. Al-Maidah ayat 2.

Dan Rasulullah bersabda:
" و إياكم والفرقة , وعليكم بالجماعة, فإن الشيطان مع الواحد , وهو من الإثنين أبعد , من أ راد بحبحة
الجنة فليلزم الجماعة ". رواه الترمذى .
“Hindari perpecahan dan berkomitmenlah pada jama’ah, karena syaitan selalu bersama dengan orang yang menyendiri [tidak berjama’ah], dan ia menjauh dari dua orang, maka barang siapa yang menginginkan syurga yang terbaik ia harus berkomitmen pada jama’ah“.

"وانا أمركم بخمس ,الله أمرنى بهن : بالجماعة , و السمع , و الطاعة , والهجرة , و الجهاد فى
سبيل الله, فإن من خرج من الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإ سلام من عنقه إلى أن يرجع ,
قالوا : يا رسول الله و إن صلى و صام ؟ , قال : و إن صام وصلى و زعم أنه مسلم ". رواه أحمد .

“Dan saya memerintahkan kepada kalian lima perkara, Allah memerintahkan saya dengannya: [1] berjama’ah, [2] selalu siap mendengar, [3] taat, [4] hijrah dan [5] jihad fi sabilillah. Barang siapa yang keluar dari jama’ah walaupun hanya satu jengkal maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali dan berkomitmen lagi pada jama’ah, para shahabat bertanya: Yaa Rasulullah, sekalipun shalat dan puasa? Rasul menjawab: Sekalipun ia puasa dan shalat serta mengaku sebagai seorang muslim“. H.R.Ahmad..

Cerita di sebalik tabir BTN

Petikan dr Malaysiakini

'Kami ditunjukkan gambar Datuk Seri Anwar Ibrahim bersama seorang rakyat Amerika. Jurulatih memberitahu kami yang beliau seorang pengkhianat kepada negara kerana beliau mempunyai hubungan yang baik dengan orang Amerika'.

Itulah antara isu-isu yang dibangkitkan sewaktu program pembinaan negara dijalankan oleh Biro Tatanegara (BTN), yang pernah diikuti seorang pelajar tahun empat jurusan ekonomi, Fakhrul Zaki Fazial.

Fakhrul yang belajar di Universiti Islam Antarabangsa (UIA) berkata, fokus kursus tersebut adalah mengenai bangsa Melayu.

"Mereka (jurulatih) juga mengkritik pembangkang dan menganggap kritikan mereka sebagai patriotik," tambahnya.

Ketua pelajar Universiti Malaya, Mohd Ridzuan Mohammad, yang pernah menghadiri program BTN pada 2004 berkata, malah terdapat ceramah yang mendakwa bahawa kaum lain menjadi ancaman kepada orang Melayu.

Menurutnya, BTN tidak seharusnya membangkitkan sentiman perkauman yang akan mencetuskan perpecahan kaum.

Katanya, ini kerana program tersebut boleh mempengaruhi sesetengah pelajar yang hadir berhubung ideologi perkauman tersebut.

Chin Shin Liang, seorang bekas pelajar Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang pernah menghadiri program BTN pada Disember 2008, turut berkongsi pengalamannya.

"Kami ditunjukkan klip video perhimpunan Bersih dan kemudian gambar negara Palestin yang dilanda perang dengan keterangannya: Apakah ini yang kita mahukan?... Kita juga ditunjukkan seorang pemprotes (tidak dikenalpasti) membaling batu," katanya.

Sambil menyifatkannya sebagai "amat berat sebelah", Chin berkata: "Ia tidak menyatakan siapa pembaling batu itu, (dia) mungkin seorang Mat Rempit yang mahu berseronok atau polis yang melakukan provokasi terhadap pemprotes dengan menggunakan meriam air."

Katanya, jurulatih juga mengajar bahawa kerajaan BN dipilih oleh rakyat dan oleh itu ia merupakan kerajaan yang sah, tetapi tidak berusaha untuk membezakan parti politik dan kerajaan.

"Ini jelas mengelirukan kerana ia menjadi peraturan bahawa agensi-agensi kerajaan harus bersikap berkecuali dan berkhidmat sepenuhnya kepada negara (bukan hanya parti/gabungan tertentu)," katanya.

Ianya seolah-olah menyatakan bahawa kerajaan BN 'mewakili' negara ini dan harus ditaati tanpa dipersoalkan, katanya.

Sementara itu, Fakhrul menyuarakan keraguannya mengenai pemilihan jurulatih BTN.

"Saya fikir sesetengah jurulatih tidak layak kerana mereka begitu beremosi dan tidak intelektual dalam ceramah mereka.

"Jika pelajar tidak bersetuju dengan pandangan jurulatih, mereka akan memarahinya di depan semua orang," katanya.

Sementara itu, sesetengah pihak merasakan bahawa kursus BTN telah dikecam secara tidak adil.

Semalam, satu kumpulan yang menamakan diri mereka sebagai 'bekas peserta kursus BTN' mengadakan sidang akhbar di Kuala Lumpur untuk menyatakan pandangan mereka.

Ketuanya, Ahmad Shafei berkata mereka berasakan ia menjadi tanggungjawab sosial mereka untuk memperbetulkan pandangan berat sebelah terhadap kursus BTN.

Beliau menafikan bahawa modul BTN menyemai kebencian terhadap kaum lain, tetapi menurutnya, BTN mengajar peserta saling menghormati hak kaum lain seperti yang termaktub dalam perlembagaan.

Oleh itu, katanya, adalah tidak adil untuk menyatakan bahawa BTN cuba mewujudkan perpecahan, sedangkan ia hanya mengajar mengenai sejarah rasmi negara ini.

Pelajaran dari ibadah korban

Petikan Khutbah Aidiladha
Saudara-saudara kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Kita bersyukur ke hadirat Allah kerana dapat berhimpun di pagi yang mulia ini bagi menyempurnakan satu ibadah bersempena Aidiladha. Sambutan Aidiladha, seperti yang kita maklumi, mempunyai hubungan dengan ibadah haji. Ibadah ini pula mempunyai banyak pengertian suci terutama dalam jalinan hubungan di antara Allah, sebagai Khalik atau Pencipta, dan manusia sebagai makhluk atau ciptaanNya.

Pada pagi mulia begini, berlangsung secara serentak dua perhimpunan hebat yang besar maknanya. Pertama, perhimpunan di Mina di kalangan para jemaah yang menunaikan ibadah haji, sejurus selepas mereka selesai berwukuf di Arafah. Kedua, perhimpunan untuk mengerjakan solat Aidiladha di merata tempat-tempat lain, bagi orang-orang seperti kita yang tidak berkesempatan menunaikan ibadah haji.

Perhimpunan di Mina itu seumpama satu muktamar antarabangsa yang besar, disertai oleh manusia yang datang dari segala pelosok dunia. Mereka berlainan warna kulit dan rupa, berbeza darjat dan keturunan, serta tidak sama latarbelakang sosial dan ekonomi. Bagaimanapun, mereka datang dengan satu tujuan: beribadah kepada Allah dengan membesar dan mengagungkanNya. Dengan berihram yang melambangkan keseragaman dan kesamaan, mereka membenamkan segala sifat takbur dan taksub diri masing-masing demi menjadi umat yang satu

Di sinilah, semangat kesamaan dan persaudaraan sesama manusia ditunjuk dan dihayati, menghasilkan satu perpaduan yang paling hebat.

Di tempat-tempat lain di merata dunia, termasuk di tempat kita berhimpun ini, semangat kesatuan dan perpaduan turut menjadi tema yang disemarakkan. Ia juga dapat diibaratkan sebagai satu muktamar, meskipun dalam saiz yang lebih kecil, kerana kehadiran muslimin-muslimat dari pelbagai golongan dan latarbelakang. Baik tua atau muda, lelaki atau wanita, ketua atau pekerja, pemimpin atau rakyat biasa, kita semua menghadirkan diri sebagai jemaah yang satu. Kita sama-sama mengumandangkan takbir dan tahmid. Kita sama-sama membenamkan sifat takbur dan taksub diri, lantas melaungkan ikrar membesar dan mengagungkan Allah.

Kemudian daripada itu, sebahagian daripada kita, baik yang sedang menyempurnakan ibadah haji, mahupun muslimin-muslimat seperti kita yang selesai melaksanakan solat Aidiladha akan pula melangsungkan ibadah korban. Kita menyembelih binatang ternakan, lembu atau kambing, yang dagingnya dibahagi-bahagikan kepada sanak saudara, jiran tetangga dan fakir miskin.

Ibadah korban ini pula, sebagai sebahagian daripada syiar bersempena ibadah haji dan Aidiladha, turut membantu menyuburkan amalan menjaga kebajikan sesama umat. Amalan ini mengukuhkan lagi tujuan membentuk kesatuan dan perpaduan di antara manusia atas dasar keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.

Allahu Akbar (3X) Walillah-ilhamd

Kita bersyukur kerana dapat terus menghidupkan semua ibadah ini. Tujuan menghidupkannya tentu didorong rasa yakin bahawa terdapat pengertian-pengertian suci yang mesti dihidupkan bersempena ibadah tersebut. Pengertian tersebut pasti dapat menjadi panduan kepada kita bagi membina kekuatan-kekuatan yang perlu bagi mencapai hidup bahagia dan sejahtera.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

Jika diteliti, terdapat sekurang-kurangnya tiga kekuatan yang dimaksudkan itu.

Pertama, perlunya dibangunkan sifat-sifat kemanusiaan yang unggul dan luhur. Manusia yang lemah jiwa, rendah semangat serta bejat akhlak tidak mungkin menjadi orang-orang yang kuat berjuang, apalagi untk tujuan membawa kebaikan kepada orang lain.

Kedua, perlunya ada jalinan ukhuwah atau rasa persaudaraan yang kukuh berdasarkan taqwa. Dalam perjuangan, perlu barisan yang kukuh. Tanpa ukhuwah, berlaku perpecahan, lantas membawa kelemahan.

Ketiga, terdapat kesediaan berjihad dan membuat pengorbanan dalam mencapai kejayaan dan hidup sejahtera. Tiada kejayaan tanpa usaha bersungguh-sungguh dan tanpa pengorbanan.

Berdasarkan pengertian di sebalik ibadah haji dan sambutan Aidiladha ini, terdapat tiga faktor utama yang telah, dan boleh, membantu menghasilkan semua kekuatan yang dimaksudkan.

Pertama, manusia sanggup tunduk sepenuhnya kepada prinsip menerima dan mengagungkan Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Inilah kekuatan iman.

Kedua, manusia sedia menerima prinsip bahawa di sebalik kelainan-kelainan lahiriah, mereka sebenarnya sama di sisi Allah. Jadi, manusia mesti menjalin hubungan berbaik-baik sesama mereka atas dasar taqwa kepada Allah. Inilah kekuatan persatuan atau persaudaraan.

Ketiga, manusia reda berjihad dan membuat pengorbanan terhadap kepentingan-kepentingan bersifat sementara bagi mencapai kejayaan dan kesejahteraan yang lebih abadi. Inilah kekuatan semangat berjuang.

Para jemaah yang dihormati,

Faktor pertama menuntut pembinaan jiwa tauhid. Faktor ini menerangkan bahawa kekuatan manusia hanya tercapai apabila mereka menerima hanya Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Ini bermakna, hanya Allah yang dipuja dan dipatuhi dan yang keranaNya manusia sanggup membuat pengorbanan demi mencapai redaNya.

Ia juga bermakna manusia menolak untuk bertuhankan diri sendiri, bertuhankan kepada kuasa-kuasa lain, bertuhankan kepada darah dan keturunan, bertuhankan kepada lambang-lambang kebendaan, bertuhankan kepada puak dan bangsa, malah bertuhankan kepada sebarang fahaman yang

lazimnya bersifat nisbi dan tidak kekal.

Hakikat menunjukkan bahawa kesalahan memilih tuhan inilah yang menjadi punca berlakunya kemungkaran yang mengakibatkan kerosakan manusia.

Contohnya, manusia yang bertuhankan dirinya akan bertindak memenuhi nafsunya yang serakah. Mereka yang serakah sering bertindak melampau batas menzalimi orang lain.

Manusia yang bertuhankan lambang-lambang kebendaan pula sebenarnya bertindak di luar akal fikirannya. Di mana rasionalnya kita apabila bertuhankan rekaan sendiri? Kecenderungan melakukan tindakan-tindakan tidak rasional sudah pasti membahayakan kehidupan sendiri dan kehidupan orang lain.

Firaun merupakan contoh manusia yang mempertuhankan diri sendiri. Di sebalik kekuatan bala tentera dan kemewahan harta bendanya, Firaun menjadi lemah berhadapan dengan balasan Allah. Akhirnya dia tenggelam bersama bala tenteranya di Laut Merah.

Kaum Tsamud, di zaman Nabi Salih, bongkak dengan kehidupan kebendaan dan leka bermewah-mewah. Mereka menghabiskan masa membina bangunan-bangunan dan gedung-gedung tinggi dan kukuh semata-mata sebagai lambang kemewahan dan kemegahan. Kerana lekanya, kaum Tsamud lupa mengingat Allah. Lebih buruk lagi mereka mempersenda hukum Allah, dan memperolok Nabi Salih. Akibatnya, di sebalik kekuatan semua bangunan pencakar langit mereka, kaum Tsamud yang ingkar itu dibinasakan.

Firman Allah s.w.t. dalam surah Al-'Araf, ayat 78:

"Kerana titu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka."

Allahu Akbar (3X) Walillah-ilhamd.

Faktor kedua menegaskan bahawa kesatuan dan kekuatan persaudaraan hanya terbina menerusi jalinan yang diikat dasar taqwa. Inilah perpaduan tulen.

Faktor ini boleh disaksikan menerusi ibadah haji itu sendiri. Dalam perhimpunan jutaan orang itu, hak dan tanggungjawab manusia sama belaka. Walau datang daripada pelbagai budaya dan adat resam, masing-masing mematuhi wajib dan rukun yang sama. Tidak ada kelebihan antara raja di atas rakyat; di antara yang berkulit cerah ke atas yang berkulit gelap.

Islam sendiri menggariskan prinsip menjalin hubungan atas dasar taqwa.

Firman Allah s.w.t dalam surah Al-Hujurat ayat 13:

"Yang termulia di antara kamu pada pandangan Allah ialah dia yang paling bertaqwa."

Prinsip ini telah dihidupkan Rasulullah s.a.w dalam membina perpaduan generasi awal Islam hingga terbentuk satu kekuatan unggul di kalangan mereka. Inilah prinsip yang mengangkat Zaid bin Tsabit, menjadi panglima tentera yang didalamnya terdapat golongan bangsawan Arab sebagai soldadu biasa. Salman, orang Farsi, diistiharkan Rasulullah sebagai kerabatnya, demi menghapuskan prejudis kaum dan bangsa. Bilal, bekas hamba yang berkulit hitam tebal, terangkat darjatnya menjadi sahabat dan orang kepercayaan Nabi s.a.w.

Perpaduan berdasarkan taqwa dapat memantapkan hubungan antara manusia. Dasar ini mampu mengikis prasangka serta rasa cemburu dan khuatir akan kehilangan kedudukan dan pengaruh. Ini berlaku kerana semua pihak yang bertaqwa sedar bahawa masing-masing ada peranan. Lantas, masing-masing dapat melihat hubungan di antara mereka sebagai rakan perjuangan yang akan bertindak untuk saling kukuh-mengukuhkan.

Faktor ketiga ialah kekuatan semangat perjuangan. Kekuatan ini mesti dibina dengan mewujudkan sifat mahu berjihad dan sedia berkorban.

Biasanya, untuk mencapai kejayaan yang lebih abadi seseorang itu harus sedia mengorbankan kepentingan-kepentingan kebendaan yang bersifat sementara.

Di zaman awal Islam, orang-orang Islam Makkah mungkin tidak mengalami kerugian kebendaan yang berat jika tidak berhijrah ke Madinah. Namun, mereka mungkin pula tidak dapat meraih erti kemenangan yang abadi dan sempurna. Dengan membuat pengorbanan meninggalkan keselesaan hidup di Makkah, mereka berjaya membenamkan rasa taksub kepada puak, keturunandan tanahair; serta membenamkan sifat rakus kepada kemewahan kebendaan. Sebagai ganjaran, mereka menghayati sifat persaudaraan yang tulen, berdasarkan iman dan taqwa. Hasilnya, berlaku pembinaan sebuah masyarakat yang kental ukhuwahnya, dan menikmati kehidupan yang tegak di atas keadilan dan kebenaran. Inilah kemenangan sebenar.

Mereka yang sedang mengerjakan ibadah haji juga sedang menjalani satu latihan praktikal berjihad dan mengorbankan keselesaan kebendaan kerana mahu mendidik jiwa agar tunduk kepada keagungan Allah. Kita yang sedang berhimpun bagi melaksanakan solat Aidiladha ini juga sebenarnya sedang menjalani latihan yang sama.

Kejayaan sebenar tercapai dalam bentuk iman yang bertambah teguh dan ketahanan jiwa yang lebih kukuh sebagai insan.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

Masyarakat Islam di mana-mana pun, termasuk kita, perlu terus meningkatkan usaha memperbaiki mutu kehidupan dan kesejahteraan bersama.

Dalam meneruskan usaha mulia itu, wajarlah kita mengambil iktibar daripada semua pengertian ini supaya kejayaan yang hendak dicapai bersama itu benar-benar bermakna dan menjamin kesejahteraan yang abadi sifatnya.

Apakah di antara iktibar-iktibar yang boleh dimanfaatkan?

Pertama, hendaklah kita terus bekerja atas dasar melaksanakan hukum-hukum Allah. Berbuatlah apa sahaja demi mendapat redaNya. Janganlah keghairahan untuk mencapai kejayaan membuat kita kehilangan punca dan arah. Memang kekuatan boleh diperoleh dengan mengumpul sokongan pengikut, wang dan kemahiran. Namun, tanpa kecintaan kepada Allah, tanpa mentauhidkanNya, jiwa manusia akan kosong; dan lambat-laun akan kehilangan tenaga. Jiwa tanpa iman akan mudah terjebak untuk bertuhankan tuhan-tuhan palsu yang akhirnya akan merosakkan tujuan untuk membawa kebaikan kepada manusia.

Kedua, kita harus terus memperkuat barisan dengan memperkuat ukhuwah atas dasar taqwa. Usaha meningkatkan kesejahteraan umat merupakan usaha besar yang menjejas kepentingan masyarakat seluruhnya. Oleh itu, elakkanlah diri daripada menyediakan jalan-jalan yang dapat membawa kepada perpecahan. Persaudaraan berdasar taqwa dapat mengelakkan kecenderungan mendabek dada dan mengukur kejayaan berdasarkan banyak dan hebatnya publisiti. Dengan taqwa, keikhlasan bekerja boleh dicapai. Dan ini berguna bagi mengelakkan merebaknya budaya mengampu yang merosakkan.

Ketiga, nyalakanlah semangat berjuang dengan menanamkan kesediaan berjihad dan berkorban. Kesediaan berkorban mesti juga berasaskan taqwa dan kecintaan penuh kepada Allah. Ini mengelakkan timbulnya amalan berkorban semata-mata untuk meraih keuntungan lahiriah jangka pendek. Pengorbanan begini tidak akan dapat menyelesaikan banyak masalah yang memerlukan penghuraian-penghuraian asas dan rumit.

Soal memajukan pendidikan, membangunkan ekonomi, membanteras kerosakan moral dan sosial, merupakan soal-soal kehidupan. Soal dasarnya ialah mengajak manusia supaya sedar siapakah dirinya, dan apakah tujuan ia dihidupkan. Jika manusia tidak disedarkan dengan hal ini, dan mereka tidak dibimbing memaham jawapan-jawapan sebenarnya, penghuraian kepada masalah-masalah yang mereka hadapi akan hanya bersifat serpihan, tidak mutlak.

Manusia mesti disedarkan tentang diri dan peranannya yang sebenar. Langkah-langkah mesti diambil bagi menyedarkan mereka tentang peri pentingnya sifat-sifat kemanusiaan dibangunkan dalam diri masing-masing. Kecuali langkah dan usaha ini dapat diurus dan dilaksanakan, tindakan-tindakan lain tidak mungkin menghasilkan natijah dan kejayaan yang dicita-citakan.

Marilah kita panjangkan segala pengertian, pengajaran dan amalan baik ini melepasi hari-hari ibadah haji dan sambutan Aidiladha. Kita teruskan pengertian-pengertian suci ini dalam tindakan dan amalan harian kita.

Mudah-mudahan dengan menghayati pengertian-pengertian tersebut terus-menerus, keinsafan kita akan bertambah dalam mencari jalan-jalan yang benar bagi membina kekuatan-kekuatan yang diperlukan dalam usaha meraih kejayaan dan kesejahteraan hidup yang direda dan dirahmati Allah.

Allahu Akbar (3X) Walillah-ilhamd.

Baarakallah...........

Mclead Yang Sangat Mengkagumkan

Salam Aidiladha pada semua shbt seperjuangan.Alhamdulilah ditakdirkan Allah tidak semena-mena aku telah diminta mewakili Professional Huffaz Club(Profaz) kelab utk budak2 yg ambik tahfiz pakej ke program Management for Student Leaders(Mclead) yg berlangsung 3 hari dari jumaat 20-22hb November 2009.Di sini penulis tidak mahu menulis report penuh program tersebut tp cukuplah sekadar apa penulis dpt sepanjang 3 hari berprogram.

Pada mulanya penulis beranggapan S-Dev Uia mahu 'brain wash' semua yg pergi ni tapi ternyata penulis tersilap.Penulis pernah berpengalaman di'brain wash' ketika menyertai satu program leadership juga semasa di Uia Pj yg dianjurkan Leadership Department.Namun penulis mendapati tiada langsung agenda tersembunyi di belakang pogram seperti agemda politik kerajaan atau pihak pembangkang hingga abis program.Benar ia bersih dari sebarang agenda!

Nature program lebih kepada kuliah bagaimana mahu menjadi seorang leader dan menurut Mdm Martineli istilah yg sepatutnya ialah imam.Mdm martineli sentiasa menekankan Uia student shoud 3 more better to other student and as the elite group as student leader we must 4 more better than us!.Berbeza dgn Mclead sebelum ini kami begitu mewah dgn penginapan yg cukup mewah serta makanan yg sgt sedap.Penulis difahamkan nature Mclead sebelum ini adalah berbentuk kem serta diselitkan modul Btn tapi kali ni naturenya sgt berbeza.

Dua slot yg begitu menarik penulis adalah slot ptg jumaat di mana kami diajar bagaimana mahu influece people.Penyampainya Bro Rizal yg mengendalikan slot tersebut sgt menarik sehingga tiada sorg dari kami yg tertidur pun walaupun penulis difahamkan student Gombak qiamulail mlm sebelumnya.Mengenai jumlah peserta memang kami yg dtg daru Uia Kuantan sgt minoriti kerana hanya diwakili 11 org yg mewakili club dan society di Kuantan berbanding Gombak yg mempunya 90 club dan society.Slot lain yg menarik minat pemulis ialah slot khas Penghayatan Sains dlm Al-Quran atau dikenali sbg PASAK yg disampaikan oleh Dr.Arip Kasmo.Dua slot additional ni telah membantu penulis memahami bagaimana seorg leader boleh mempengaruhi followernya dgn kita menguasai mereka dan juga memnatapkan aqidah penulis.Apapun slot Bro Rizal itu segala ilmu yg dapat harus digunakan dgn baik dan tidak disalah gunakan,Ingat ia hanyalah tools semata dan paling pnting don't 'bangauwing'.Bangauwing istilah yg merujuk pada org yg menyalahkan org lain seperti lagu Bangau Oh bangau tu

Untuk slot lain kami didedahkan lebih detail tntg procedure and guideline program,event management and sponsorship,manage finance dan untuk praktikal kami diberi satu tugasan untuk disiapkan dlm masa x smpai setengah hari dan dikehendakai present pada mlmnya.Seramai 7 griup dibahagikan mengikut unit masing2 seperti badan berunoform,community service,socety dan sbgainya.Kaami Uia Kuantan membentuk satu group.Apa yg buat penulis sedikit kecewas kerana semasa kami group Kuantan sedang [present terdapat gangguan pada mic dan audio menyebabkan penulis yg sdg present rasa down skit dan depress dan x dpt present dgn baik(bangauwing pula huhu).Apapun kami group Uia Kuantan dptla no 5 dr 7 group semua.at least bukanlah no last kan.

Apapun penulis berterima kasih pada S Dev yg diterajui oleh Mdm Martineli,Sis Liza,Bro Wahid,Sarjan dan x lupa Kak Yat satu2 staf Kuantan yg banyak beri aspirasi pada group kami.X lupa member2 group yg gila2 seperti nini dan fizah(kdg tertukar 2 org ni),kak nad,aida,sarah dan lain2 serta paling pnting our hero in our group hakim,asyraf dan ridzuan.

Moga apa input yg penulis dpt akan diaply sebaiknya.

Exam abis,Cuti Sem Bermula

Salam.Lama x update blog krn musim exam,heheh.just ringkas dan padat je hehe.Apapun alhamdulilah tepat jam 11pg 17 Nov akhirnya abis sudah exam aku dgn paper paling last biochemistry 1 yg dianggap sukar tp sbnr examnya x dala susah sgt(confident nampak)

Ya Allah aku telah berusaha sedaya upayaku,kini hanya padamu aku serahkan samada kejayaan atau kegagalan

PAS adakan seminar ganti muktamar khas

PAS akan mengadakan satu seminar khas bagi membincangkan halatuju parti itu bagi menggantikan muktamar khas yang dicadangkan oleh Mursyidul Amnya.
Iklan

Seminar yang bakal disertai oleh lebih 1000 perwakilan dari seluruh negara itu akan diadakan 7 November ini di Dewan Datuk Fadzil Noor, Markas Tarbiyah PAS Pusat, Taman Melewar, Kuala Lumpur.

Antara yang akan dijemput memberikan pandangan nanti adalah Profesor Dr Abdul Aziz Bari.

Demikian beritahu Presiden PAS, Datuk Seri Tuan Guru Abdul Hadi Awang dalam sidang medianya jam 1.00 pagi tadi.

Sidang media itu diadakan selepas mesyuarat khas Jawatankuasa Pusat yang diadakan di Pejabat Agung PAS, Jalan Raja Laut.

Selain itu, mesyuarat khas itu juga mengambil ketetapan agar Lembaga Disiplin PAS yang dipimpin oleh Datuk Tuan Ibrahim Tuan Man menyiasat semua dakwaan terhadap PAS Selangor.

Lembaga ini akan mencadangkan tindakan disiplin kepada mana-mana pihak yang didapati bersalah melanggar disiplin parti.

Dalam sidang media itu juga, Abdul Hadi memaklumkan, isu Kerajaan Perpaduan ditutup sepenuhnya dan tidak akan berbangkit lagi.

Turut serta dalam sidang media selepas mesyuarat berjalan mulai jam 9.00 malam hingga 1.00 pagi itu adalah Naib Presiden, Tuan Ibrahim Tuan Man, Salahudin Ayub, Mahfuz Omar dan Setiausaha Agung, Datuk Mustafa Ali serta Ketua Pemuda, Nasrudin Hassan Tantawi

Gelodak amarah, keliru pengikut Pas tak terbendung lagi

Mesyuarat khas malam ini dijangka cungkil punca Nik Aziz melenting terhadap barisan pemimpin dipilih akar umbi

"SUDAH tiba masanya (Majlis Syura) Pas secara serius menggantikan Mursyidul Amnya yang kian hari kian nanar dan semakin tua. Kewibawaan beliau juga semakin pudar. Kebijaksanaan mencerna masalah sudah semakin terhakis. Beliau hanya mendengar 'hasutan' satu pihak seakan-akan Pas hanya ada satu jalur. Beliau gagal menjadi bapa yang adil untuk semua anak-anaknya."

Selalunya umum akan menuduh kononnya media arus perdana sengaja membuat kenyataan seumpama itu dengan niat untuk sengaja melaga-lagakan kepemimpinan Pas demi 'keuntungan' parti pemerintah. Namun, kejadian kali ini tidak sedemikian.



Luahan kekecewaan, tidak puas hati dan kemarahan ini dilakukan sendiri ahli, pengikut dan penyokong kuat Pas yang masih mencari punca mengapa pemimpin dan ulama yang dikagumi mereka selama ini, Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat, mencetus ribut di kala suasana politik memihak kepada mereka.

Kenyataan di atas adalah yang paling lantang disuarakan Faisal Tehrani, penulis yang juga penyokong kuat Pas dan blognya. Ia turut dipetik seorang lagi penulis terkemuka Azizi Abdullah, yang turut berkata: "Tapi saya benar-benar pening dengan Tuan Guru Nik Aziz. Saya sampai sekarang tak mampu membaca apakah Tuan Guru seorang politikus atau agamawan zuhud atau seorang pentadbir yang cekap?"

Turut menyuarakan keresahan ialah seorang lagi pengikut kuat Pas, Mohd Sayuthi Omar, yang menulis dalam blognya: "Seperti mana dimaklumi ekoran cadangan itu menyebabkan Pas jadi kelam kabut dan ada ahli yang tidak tidur dan resah memikirkannya. Cadangan Nik Aziz itu memberi gambaran Pas kini sedang dalam gelora, dilanda krisis yang bakal membawa Pas terbelah dua. Pergaduhan antara Nik Aziz dengan Abdul Hadi seolah mereka berdua membelah dua kitab al-Quran!

"Kerisauan ini dirasai oleh setiap mereka yang sayangkan Pas. Seorang penjenguk blog Merah Tinta yang mengakui sebagai ahli Pas mengambil keputusan memikir semula penyertaannya dalam Pas. Beliau adalah ahli Umno yang baru saja berhijrah kepada Pas."

Ramai yang keliru dengan suasana terkini yang berlaku dalam Pas, kerana tiada angin, tiada ribut, tiba-tiba Menteri Besar Kelantan itu membuat kenyataan luar biasa meminta satu perhimpunan agung khas (EGM) untuk 'membersihkan' parti terbabit daripada kumpulan liberal yang didakwanya ingin bergabung dengan Umno.

Rentetan daripada desakan Nik Aziz, Presiden Pas, Datuk Seri Abdul Hadi Awang, yang turut dipalit dakwaan sebagai pengkhianat parti memanggil satu mesyuarat khas malam ini untuk menimbangkan sama ada desakan Nik Aziz untuk mengadakan EGM perlu dihormati atau sebaliknya.

Namun, kenyataan terbaru Abdul Hadi bahawa Pas 'menutup semua pintu rundingan dan perbincangan dengan Umno berhubung pembentukan kerajaan perpaduan', membuatkan ramai sinis kerana agenda kumpulan tertentu untuk mengekang golongan liberal yang bergerak atas pentas agenda penyatuan Melayu berjaya dilaksanakan.

Jika yang menulis itu ialah penulis media perdana mungkin ramai yang akan berkata ia hanya rekaan cerita, namun petikan ini diambil daripada blog Mohd Sayuthi yang menceritakan perbualannya dengan seorang aktivis Pas:

"Aktivis ini memang seorang yang berani dan berterus-terang. Bila saya tanya dia siapakah yang menjadikan Tok Guru sebagai alat dan menyusahkan kehidupan Tok Guru, dia menjawab tanpa berselindung. (Biarlah saya tidak menyebut nama-nama itu demi menjaga nama baik orang berkenaan dan juga Tok Guru serta aktivis ini).

"Kenapa orang-orang ini, apa logiknya," soal saya. "Jika sekali tengok, ia tidak mungkin melakukan itu. Tetapi anta (anda) kena faham agenda ini sudah lama berjalan. Sejak muktamar lalu lagi. Yang menggerakkan ialah bukan orang yang takut kepada Tok Guru, tetapi orang yang takut kepada Pas?" katanya.

"Ana (saya) tidak berapa faham?" akui saya. "Anta tahukan cita-cita orang ini? Dia mahu jadi Perdana Menteri. Dalam perkiraannya, jika Pas tidak sokong dia tidak akan dapat jadi Perdana Menteri. Dan memang hakikatnya begitu. Baginya jika Abdul Hadi jadi presiden bermakna impian itu akan melayang begitu saja.." ceritanya lagi.

"Maksudnya?" soal saya. "Sebab dia kira Hadi dan the gengnya tidak akan bersamanya. Maknanya, dia mesti hapuskan Hadi untuk menyenangkan tugas-tugasnya. Hadi harus diganti dengan orang lain. Jadi apa yang Tok Guru lakukan ini adalah untuk memenuhi agenda itu. Sudah faham?" jelasnya sedikit memerli akan kedunguan saya.

"Ana tidak fikir begitu!" saya cuba menafikannya. "Anta kena baca sejarah hubungan mereka ini semua. Dari mana asal mereka. Apa pegangan politik mereka. Mereka ini semua bukan daripada kumpulan ulama tradisi yang menerima tarbiah awal Pas. Mereka ini adalah kumpulan moden yang datang bertenggek dengan gerakan Islam Pas. Latar belakang mereka sebegini menyebabkan mereka cemas tidak akan diterima Pas.

"Jadi sebelum apa-apa dan untuk selamatkan diri mereka, mereka kena berusaha selamatkan diri dan puak-puak mereka," khutbahnya panjang lebar. "Hatta menggunakan jasa baik Tok Guru?" "Ya hatta menggunakan nama baik dan wibawa Tok Guru itu," tegasnya sambil mengilai manja.

"Tok Guru sedar dia diperalatkan?" saya membalikkan persoalan yang dikemukakannya. "Ana rasa Tok Guru sedar," katanya meyakini kearifan Tok Guru dengan segala yang berlegar di sekelilingnya.

"Jadi EGM itu perlulah diadakan?" saya terus menduga. "Untuk apa? Tok Guru tiada masalah sehinggakan memerlukan EGM. Yang hendak EGM orang-orang itu! Orang bermasalah dalam Pas, Tok Guru tiada apa-apa masalah," katanya.

Itu antara petikan menarik yang ditulis Mohd Sayuthi dan luahan aktivis terbabit adalah antara teori yang bermain di kebanyakan ahli dan pemerhati politik – agenda seorang pemimpin politik yang sanggup melakukan apa saja asalkan impiannya untuk menjadi Perdana Menteri tercapai.

Tidak perlu dinyatakan siapa pemimpin itu dan siapa dalang utama dalam Pas yang mahu menyingkir barisan kepemimpinan diketuai Abdul Hadi. Apa yang nyata Nik Aziz merelakan diri dipergunakan bagi kepentingan segelintir anak buahnya yang berasa diri dipinggirkan golongan liberal ini, terutama selepas pemilihan barisan kepemimpinan parti yang lalu.

Mesyuarat khas Pas malam ini yang dijangka dihadiri semua 45 ahli jawatankuasanya sudah pasti akan memberi tumpuan kepada Nik Aziz yang hadir sebagai Pesuruhjaya Pas Kelantan, kerana ramai ingin tahu mengapa secara tiba-tiba ulama yang dihormati ini melenting terhadap barisan pemimpin yang dipilih sendiri ahli akar umbi.

Nik Aziz perlu menjawab persoalan akar umbi seperti yang diluahkan Faisal: "Orang yang tidak patut dibela (contohnya) beriya-iya dipertahankan. Sebagai 'orang Pas' apabila Presiden yang dipilih secara demokratik mahu disingkirkan semata-mata kerana ingin mempertahankan parasit dari luar, maka saya rasa itu sudah melampau."